Senyum menjadi kasih


 “Be it done unto me according to Your word.”

Kata-kata Maria ini selalu terdengar indah, tetapi saat saya dan kelompok SMW mulai mengajar Sekolah Minggu di Paroki Santa Odilia Stasi Cinunuk, saya baru benar-benar merasakan maknanya.
Pernahkah kalian merasa gugup menghadapi tanggung jawab baru? Saya merasakannya tepat sebelum pertemuan pertama dimulai. siapa yang akan mengira bahwa walaupun baru pertuan pertama namun itu sangat menakutkan yang membuat kita menjadi gugup,walaupun tenyata dipertemuan selanjutnya yang membuat saya lebih tenang karena saya sudah mengenal mereka lebih dekat

SEE – Melihat Realitas dengan Mata Hati


Saint Mary Way (SMW) adalah program SMP Santa Maria yang meneladani nilai-nilai Bunda Maria melalui pelayanan nyata. Kelompok kami mendapat kesempatan mengajar Sekolah Minggu, terdiri dari saya, Angel, dan Mel. Sebelumnya, kami membuat proposal, menyusun jadwal, menyiapkan materi belajar, serta merencanakan kegiatan kreatif seperti membuat gantungan bertema “buah roh”, mengenalkan doa rosario, dan mewarnai bersama anak-anak. Semua persiapan itu membuat kami lebih siap 

Ketika tiba di stasi, anak-anak menyambut kami dengan ceria. Senyum mereka yang tulus langsung membuat hati saya lebih tenang, selain itu mereka sangat lucu dan asik kami bercanda bersama dan bermain bola setelah saya mengajar. Saat itulah saya menyadari bahwa mengajar bukan hanya soal menyampaikan materi, tetapi juga hadir dengan hati, sabar mendengar, dan menciptakan suasana yang menyenangkan.

Selain kami melihat senyuman mereka yang sangat lebar. kami juga melihat sukacita dari setiap anak yang ada disana. Sepertinya anak anak disana tidak sabar menunggu kami mengajar mereka sekolah minggu. Karena melihat semangat  dari setiap anak yang ada disana, kami juga jadi tidak sabar untuk mengajar mereka sekolah minggu. 

JUDGE – Menilai dan Merenungkan Seperti Maria


Selama pertemuan pertama, saya sempat grogi karena khawatir anak-anak bosan atau tidak memahami penjelasan kami. Namun dari cara mereka antusias mengikuti kegiatan, saya belajar bahwa kesederhanaan, kebahagiaan kecil, dan rasa ingin tahu mereka justru mengajarkan kami untuk sabar, kreatif, dan tulus melayani. Anak-anak itu menjadi cerminan nilai Maria: rendah hati, ramah, dan bersedia menerima kehadiran orang lain dengan hati terbuka.

Di pertemuan kedua dan ketiga, suasana menjadi lebih akrab. Saya mulai mengenal mereka, memahami cara mereka belajar, dan bisa berinteraksi dengan lebih hangat. Dari mereka, saya belajar bahwa pelayanan yang sejati bukan tentang memberi sesuatu yang besar, melainkan tentang menghadirkan diri sepenuh hati dan menciptakan pengalaman yang berkesan.

pengalaman ini membuat saya teringat dengan 1 ayat alkitab yaitu 

Markus 9:37 "Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku."

ACT – Komitmen untuk Bertindak

dari selama pelayanan ini yang membuat saya menjadi terinspirasi dan semangat untuk menjalankan sekolah minggu ini sangat banyak seperti belajar untuk lebih percaya diri untuk berbicara didepan banyak orang,melihat anak anak disana tersenyum dan bahagia,membantu sesama dengan perbuatan sekecil apapun ,belajar untuk melayani tuhan dengan tidak hanya bergereja setiap minggu tapi melayani lebih dalam seperti mengajar sekolah minggu, misdinar ,dll

Hari itu saya pulang dengan hati hangat. Senyum anak-anak, tawa mereka saat mewarnai, dan antusiasme mereka belajar menjadi kenangan yang tak akan saya lupakan. Saya belajar bahwa mengajar dan melayani bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang kesediaan hadir, mendengarkan, dan memberi hati kita sepenuhnya. Seperti kata Bunda Maria, “Ya”aku yang kecil dan sederhana ini mungkin tampak biasa, tetapi saya percaya Tuhan dapat memakai hal itu untuk sesuatu yang besar.
Dan semuanya dimulai dari satu pertemuan—dan satu senyum yang mengajarkan saya arti melayani dengan hati.


Komentar